Mari Bermain Anggar
Dua tahun yang lalu aku sangat dikejutkan dengan sebuah pernyataan dari teman dekatku pada sebuah milist, yang sangat tidak kuperkirakan sebelumnya. Tapi hal ini bukan menjadi batu sandungan bagiku untuk tetap berteman dengannya, cuma menjadi sebuah pertanyaan besar bagiku "apakah ini yang namanya termasuk hak hidup??" , begini cuplikannya :
Untuk xxxxx dan Kaumku.
Aku berharap xxxxx tidak main-main dengan pernyataannya.
Kamu mencintai sesama jenis. Aku pun demikian.
Di xxxxx aku sudah mencintai sesama
jenis. Itu kelanjutan dari kecenderunganku menyukai
sesama jenis sejak di SMP xxxxx, Jl xxxxx.
Pada jamanku di xxxxx (awal 90-an) ada
sekumpulan kecil siswa homo. Tidak lebih dari 10
siswa. Mulai dari kelas 1 sampai kelas 3 dari berbagai
jurusan. Ada Jowo, Cino, dan seorang Palembang. Kami
saling kenal lewat feeling dan tatapan mata. Memang
begitu para homo mengidentifikasi kaumnya. Secara
sembunyi-sembunyi kami lantas membentuk kelompok
eksklusif. Waktu itu kami patungan mengontrak rumah di
daerah K*l***n. Disitulah kami menikmati kegembiraan
bersekolah di xxxxx dan kehidupan homo kami. Waktu
demi waktu kami lalui dalam keriangan luar biasa
sebagaimana layaknya anak-anak xxxxx yang lain.
Dan kini di milis ini selain aku ada 2 homo xxxxx
lainnya. Mereka dari kelompok K*l***n. Kalau xxxxx
memang betul seperti kami, berarti ada 4 gay di milis
ini. Jangan kawatir. Kita tak akan diusir dari milis
ini. Ada kebebasan besar di milis ini sebagai efek
dari ajaran di Jl xxxxxx yang menanamkan nilai-nilai
"seribu bunga boleh berkembang". Barangkali kita akan
dimaki-maki atau diejek atau dikutuk atau direndahkan
atau diisolasi oleh sebagian komunitas milis ini. Tapi
kita tak akan pernah diusir. Sebagaimana anak-anak
xxxxxxx yang homo tidak pernah dikeluarkan dari
sekolah. Itu yang aku dengar dari salah seorang guru
yang ber-empati kepada kami. Di Jl xxxxxx segelintir
siswa homo akan terus ada. Dari dulu sampai sekarang.
Seorang aktivis Gaya Nusantara di xxxxxx memastikan hal
itu. Salam
Berbagai macam pandangan dan dari berbagai sudut yang sebagian besar sudah pasti tidak menyetujui akan hal ini. Dan sekarang mana yang mau didahulukan suatu hak hidup, prinsip hidup atau norma??
Aduuhhh, brondong, memang terkadang aneh-aneh ya dunia ini... :)
(Vinz, aku tidak berharap kamu seperti itu..)
16 September 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

8 komentar:
Norma??? itu buatan manusia kan Kang? Pilihan itu ada untuk dipilih kan? Bukan berarti aku penganut yo Kang, neng ... aku mung menghormati wae.
sori OOT, selain yang "pemain anggar" seperti cuplikan imel diatas, temen mas Nova ada yang versi pemain "les biola" gak? :) :)
>>Vi : aku juga gitu kok, neng aku gak maulah anakku lanang kelak jadi seperti itu :D
>>Gre : hahahaha, koncoku anggar kabeh pas SMA
kalahnya gimana ya? heuheu... meski daku agak toleran soal pilihan / pandangn hidup, tapi kalo soal "main anggar" ngeri juga, najis dah. tapi kalo soal "les biola" sih ngebayangin nya gak ngeri2 amat :D
Pram kayaknya gak ada yang kalah, adanya yang ngalah dan menang den begitu seterusnya, hiiii ...:D
Disini yang didahulukan itu hak hidup.
Masalah norma, apa sih sebenarnya arti yg sejelas-jelasnya dr "NORMA" itu?
sexual preference. bukankah untuk menentukan identitas sex diri sendiri kita harus melakukan komparasi? perempuan dan laki-laki. yang lebih nyaman yang mana. ck...ck..ck...ck...pertanyaannya, sudahkah anda mencoba keduanya? berani mencoba? ck.ck.ck.ck.
>>Vie : Yupe, sama pandangan kita, mbak Vie,juga Novi, itu adl hak, hanya utk di Ind. hal itu masih belum jelas...
>>Vira : Vir, mgk pertanyaannya lebih tepat "sudahkah kita mencoba keduanya..??" (hehhehe..), eh, kalo dah dari sononys spt itu, apa perlu komparasi lagi?? :D
Post a Comment