Jenderal Markus de Kock dan Pangeran Diponegoro
Ayo sekarang kita mengingat-ingat lagi pelajaran sejarah waktu di SMP dulu. Ingat kan tentang kisah kepahlawanan Pangeran Diponegoro. Cuma sekarang gimana kalo kita memandang hal itu dari kacamata Jenderal de Kock?? sudah pasti akan menudingnya sebagai pemberontak/musuh.
Memang semua ini adalah masalah keberpihakan. Ada di sisi mana kita berdiri, dengan cara pandang apa kita melihat persoalan. Sikap atau pemikiran yang tidak menginginkan perbedaan/perselisihan bisa menjadi sebuah wujud ketidakberanian untuk memutuskan keberpihakan. Bagi kita (bangsa Indonesia) jelas Diponegoro adalah seorang pahlawan besar, dan Jenderal de Kock adalah penjajah/musuh. Keberpihakan merupakan manifestasi nilai-nilai yang kita anut, batin yang secara nyata nampak. Seperti kata Tri Kaya Parisuda yang menyatakan apa yang kita pikirkan, yang kita rasakan dan kita lakukan semestinya selaras.
Antara musuh atau kawan, antara jelek dan buruk itu tergantung dari bagaimana cara memandangnya. Jika dulu pemberontakan PKI berhasil,maka Pak Harto, Pak Harry Chan, dan konco-konconya bisa jadi akan dicap sebagai pengkianat. Demikian pula halnya dengan dunia ini kalau setan yang menguasai maka yang kita anggap jelek saat ini bisa menjadi baik dan kalau setan berbuat "jahat" akan dibilang " dasar manusia". Sendainya saja anjing berkuasa saat ini, maka kalau mereka ngumpat2x tidak akan pakai kata "A*u", bisa jadi mereka akan bilang "dasar uwong (orang)". Malaikat dan setan pun bisa jadi akan sama-sama mengutuk manusia yang berbuat jahat, karena kejahatannya adalah "memperkosa anak setan" misalnya, tapi akankah begitu .... :)
12 September 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

3 komentar:
untuk hal kayak begini paling enak jadi golput..:)
tidak terikat salah satu pandangan, tapi malah menikmati dua pandangan saling gontok2an :)
wohh... ya wis karepmu dab..nek aku mbelani salah siji..
Nek aku mbelani kowe Mas. Halah.
Post a Comment