
"Dari desa ke desa..."
Tepat pukul 13.20 kami sampe di dusun Barakah Kab. Enrekkang Sulsel, dan kami langsung singgah di rumah Mas Amirullah sekaligus untuk makan siang, karena perut sudah keroncongan sekali. Hidangan makan siang yang spesial rupanya, karena menunya adalah masapi panggang, dan juga baru kali ini aku merasakan hidangan yang paling enak serta yang paling gurih selama hidupku, dan mungkin ini bisa jadi yang terakhir yang pernah kunikmati. Aku baru saja makan masapi panggang yang hanya dibumbui kecap seperti sate biasa, sangat sederhana sekali tapi aroma dan rasanya yang luar biasa.
Konon untuk mendapatkan masapi (moa) ini sulit sekali, dan tidak setiap saat dagingnya dijual di pasar rakyat. Karena binatang ini termasuk jenis binatang yang cukup langka dan cara penangkapanya pun juga susah. Kalau di Tana Toraja masapi ini termasuk binatang yang sangat dikramatkan (disebutnya masapi bonga) seperti yang bisa dijumpai di obyek wisata Ti'la'nga-Toraja, walaupun aku sendiri belum pernah melihatnya secara langsung. Tapi dari beberapa sumber (termasuk mas Amirullah) menyebutkan bahwa binatang ini adalah sejenis belut besar yang ukuran panjangnya sampai sekitar 2 meter dengan diameter 10 sampai dengan 15 cm. Memang betul juga kalau dilihat dari lebarnya potongan-potongan daging masapi panggang itu yang kira-kira sebesar mousepad.
Hmm, nikmat banget woii, menikmati daging masapi panggang dengan lauk nasi, soalnya makan satu potong saja sudah terasa kenyang sekali.... Ueennak tenan...
02 September 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

5 komentar:
Kirain tadi teh Masapi itu Sapi cowok , gak taunya Moa. Moal makan Moa ah Kang. Lieur!
wuakakak, waktu km travelling ke sini mampir Ti'la'nga enggak?
Masapi, kukira sapi asap!
Pengen juga nyobanya, kayaknya enak tuh ya.
>>Vie : Iya mbak Vie, kalo pas liburan ke Indonesia mampir ke Toraja :)
>>Vie: kalo ke Indonesia mampir toraja mbak :D
Post a Comment