11 June 2007

Tentang Nafkah
(Pengakuan seorang anak germo....)

Pagi yang berkabut masih menyelimuti dusun Sanggala, dan hawa yang sangat dingin masih membuat enggan orang keluar rumah untuk melakukan aktivitas. Tapi berbeda dengan anak-anak di SD Sanggala, mereka sudah memulai aktivitas belajarnya. Terdengar suara anak-anak yang sedang berdoa pagi bersama, sebagai tanda bahwa jam belajar sudah dimulai, termasuk juga Marten sudah duduk tegap dan serius mendengarkan ibu guru yang sedang mengajar di depan kelas.
Ibu guru itu baru menjelaskan tentang bagaimana pentingnya seseorang harus mempunyai mata pencaharaian untuk mencukupi hidupnya. "Orang tua kalian pun juga bekerja 'kan? Itu semua untuk memenuhi kebutuhan keluarga kalian, salah satunya untuk biaya sekolah kalian ini.." katanya didepan anak-anak,"Coba, Marten ayahmu bekerja juga kan?" tanyanya, "iya ibu.."kata Marten, "Apa kerja ayahmu?" kata ibu guru, "mmm..mmmm.mmm" Marten terlihat gugup dan matanya semakin berkaca-kaca..."loh, kenapa Marten, kok kamu mau menangis, apa perkejaan ayahmu?"katanya lagi, "ayah saya seorang panjalu babi, ibu..."jawabnya sambil menangis, dan seraya teman-temanya tertawa terbahak-bahak....dan ibu guru itu tersenyum kecil...
Di daerah Toraja, arti panjalu adalah orang yang pekerjaannya mengawinkan binatang, biasanya dia membawa satu atau dua binatang berjenis kelamin laki-laki (berupa babi, kerbau) jenis unggul dengan berkeliling dari kampung ke kampung, sehingga kebanyakan orang sering menjulukinya dengan "germo". Tarif ongkos rata-rata untuk mengawinkan binatang tersebut kurang lebih lima puluh ribu rupiah, tergantung dari jenis, kualitas bibit binatang yang dibawanya.
Ada hal yang sangat menarik bagiku disini, karena pekerjaan sebagai panjalu ini sudah sangat jarang sekali kutemui di kota-kota besar, dan tentunya mempunyai keunikan tersendiri juga, yah namanya orang mempertahankan hidup. Pekerjaan ini memang pekerjaan yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Toraja dan sudah berabad-abad lalu pekerjaan ini sudah ada, walaupun kadang sering mendapat ejekan ataupun tertawaan. Memang kadang kebanyakan masyarakat suka mengkotak-kotakan pekerjaan seseorang bahkan menyudutkannya, walaupun pekerjaan itu adalah baik.
Sebetulnya apa bedanya pekerjaan panjalu ini dengan pekerjaan dokter-dokter hewan di laboratorium untuk mencari bibit unggul dari suatu spesies tertentu? Hanya saja satunya secara ilmiah dengan teknologi modern, sedangkan satunya lagi hanya berdasarkan kebiasaan (tradisional), itu saja.
Terlepas dari itu semua, ayahnya Marten adalah orang yang mempunyai karya positif juga dan mempunyai tanggung jawab, karena dia bekerja untuk menafkahi keluarganya dengan cara yang baik. Dia tidak segan dan malu-malu mengembangkan serta menggunakan talentanya yang satu sisi juga menjadi pilihan akhirnya, walau terkadang mendapat tertawaan dari orang. Siapa tahu suatu saat nanti Marten menjadi dokter hewan dan bisa meneruskan pekerjaan ayahnya serta mengembangkannya menjadi lebih modern dan bagus...

2 komentar:

Anonymous said...

haduh, aing teh prihatin euy, ha ha ha ha

Sundel O said...

aih sia , prihatin ka saha ta? :)