Kerinduan akan "PARA MANUK"
(JBC,1992...)
Waktu itu Eyang yut John d' Britto telah mengajarkan semangat "man for others" kepada para jesuit, yang kemudian disebarkan dan diantaranya juga kepada poro manuk yang saat itu nglumpuk di wilayah Kota Gudheg tepatnya di Jl. Solo 161, termasuk juga pengajaran tentang makna moto "Ad Maiorem Dei Glorian" yang menjadi semangat pokok serikat jesuit hingga saat ini.
Sebuah pola pendidikan yang sangat berbeda dengan pola pendidikan lainnya waktu itu, dan satu lagi adanya sebuah tradisi unik yang salah satunya dapat membangun sebuah kebersamaan dan rasa tali persaudaraan yang begitu akrab diantara para manuk-manuk itu beserta para pengasuh manuk. Memang , saat itu ada juga manuk yang sangat manut, mbalelo, mangkir,etc... dan so pasti tidak ada manuk jadi-jadian disana,maksudnya waktu itu para manuk tersebut memang diajarkan untuk mejadi manuk sejati, untuk menjadi diri manuk itu sendiri, dengan keseimbangan Competence, Compassion, Conscience, tanpa adanya suatu keharusan bahwa "kalian harus masuk PTN",atau harus jadi orang kaya, orang besar, mapan dsb...tapi jadilah dirimu sendiri, To be Men for and with Others, serta selalu memuliakan namaNya.
Hari-hari yang selalu diwarnai dengan tawa ngakak, urakan,gojeg ala kampungan, apa adanya tapi tidak ada yang berbau kriminal dan tetap disiplin, walaupun agak sedikit kurang sopan.
Rindu dan ingin bernostal"gila" dengan poro manuk kembali...apakah ada kesempatan...tidak tahu juga..??? Ada R. GEREH, RENGGO, KUKUK "endas Kothak", Sapi, Sugeng "Gonteng",Giman "tukang pamer untu", Cak Roto, Ambar "yang selalu kumur", gareng, Ramon, si gagap "tapi lancar misuhnya", Bayu "yang selalu garuk2x kepala krn penuh dengan kutu", etc...para manuk semuanya...dimana kalian, pasti suatu saat kita akan bertemu kembali...
01 June 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 komentar:
Hallo dab, sesuk agustus 2007, ono pertemuan iluni JB neng cedak setneg jakarta, teko wa...su
Ya Nova,
itu mungkin akan menjadi masa paling indah dalam hidup kita. Suatu masa ketika kita tidak perlu menggubris tentang hal-hal gak penting: adat, tata krama, etnik yang artifisial. Itulah masa ketika kita dihargai sebagai individu dengan segala anugerah yang Tuhan berikan. Itulah masa ketika orisinalitas pribadi menjadi lebih penting dari tata tertib, keseragaman, dan tata cara lahiriah yang dangkal. Itulah masa ketika kita melakukan sesuatu karena memang ingin melakukan sesuatu, bukan karena takut, tabu, aturan negara, khawatir dicap negatif dll. Really miss that moment.
Post a Comment